Jenis Kertas Cetak dan Kegunaannya


Pemilihan jenis kertas yang tepat sangat menentukan kualitas hasil cetak. Dalam dunia percetakan, tersedia berbagai jenis kertas cetak yang masing-masing memiliki karakteristik, ketebalan (gramasi), dan kegunaan tertentu. Memahami perbedaan ini penting untuk memastikan hasil akhir cetak sesuai dengan tujuan penggunaan.

Jenis kertas yang paling umum digunakan adalah HVS, yang biasanya dipakai untuk cetakan dokumen seperti surat, laporan, atau fotokopi. Kertas HVS memiliki permukaan agak kasar dan gramasi ringan (70–100 gsm), cocok untuk printer rumahan maupun mesin cetak laser.

Untuk keperluan promosi seperti brosur, flyer, atau kartu nama, kertas art paper dan art carton lebih banyak digunakan. Art paper memiliki permukaan glossy dan halus, dengan ketebalan sekitar 120–150 gsm. Sedangkan art carton lebih tebal (190–310 gsm) dan digunakan untuk cetakan yang butuh daya tahan lebih kuat.

Kertas ivory dan duplex sering digunakan dalam pembuatan kemasan produk. Kertas ivory memiliki permukaan putih halus dan elegan, cocok untuk box makanan premium atau kosmetik. Sementara duplex memiliki satu sisi putih dan satu sisi abu-abu, lebih ekonomis untuk kemasan skala besar.

Untuk cetakan eksklusif seperti undangan atau sertifikat, kertas jasmine, linen, atau concorde memberikan kesan premium dengan tekstur unik. Jenis kertas ini umumnya tidak mudah ditemukan di printer rumahan dan lebih banyak digunakan di percetakan profesional.

Selain itu, ada juga kertas khusus seperti kertas NCR (Non-Carbon Required) yang digunakan untuk nota rangkap, serta sticker paper yang digunakan untuk label produk atau promosi. Pemilihan jenis kertas ini akan sangat mempengaruhi daya tahan, warna cetak, dan citra produk Anda.

Dengan mengenal berbagai jenis kertas cetak dan kegunaannya, Anda dapat menyesuaikan kebutuhan desain dan hasil akhir secara optimal. Investasi dalam pemilihan media cetak yang tepat bisa meningkatkan kesan profesional dan memperkuat brand Anda.

Mengenal RIP Software dalam Dunia Percetakan


RIP Software (Raster Image Processor) adalah perangkat lunak penting dalam proses produksi cetak, terutama untuk sistem proofing dan cetak digital atau offset. Fungsi utamanya adalah mengolah file desain digital menjadi file raster yang dapat dikenali dan dijalankan oleh printer atau mesin cetak secara akurat.

Dalam proses cetak profesional, RIP software berperan sebagai jembatan antara desain dan output cetak. RIP akan mengatur tata letak, resolusi, pemisahan warna (color separation), serta penyesuaian profil warna agar sesuai dengan spesifikasi mesin cetak yang digunakan. Ini sangat penting untuk menghasilkan proofing yang akurat sebelum produksi massal.

Beberapa RIP software populer di industri percetakan adalah ONYX, EFI Fiery, dan Wasatch. Masing-masing memiliki fitur unggulan seperti pengelolaan warna ICC profile, auto-nesting (penempatan file otomatis agar hemat bahan), serta integrasi dengan printer proof dan mesin cutting.

Untuk cetak sablon, RIP sangat penting dalam pemrosesan film separasi warna. RIP akan membuat file hitam putih dengan akurasi dot matrix (halftone) yang sesuai untuk proses afdruk screen. Tanpa RIP, separasi warna bisa salah konversi, terutama jika ada penggunaan warna spot atau gradasi kompleks.

Dalam cetak digital, RIP software membantu menghasilkan warna cetak yang mendekati tampilan monitor. Dengan profil warna yang tepat, warna yang ditampilkan pada layar bisa direproduksi secara konsisten di atas media cetak, sehingga meminimalisir kesalahan dan revisi.

RIP juga meningkatkan efisiensi kerja karena dapat mengatur urutan cetak otomatis, menggabungkan beberapa desain sekaligus (batch processing), serta mengurangi pemborosan bahan. Ini membuat RIP software menjadi investasi penting bagi bisnis percetakan profesional.

Dengan mengenal RIP software, pelaku industri percetakan bisa meningkatkan efisiensi, akurasi warna, serta kualitas cetak. Penggunaan RIP bukan hanya soal teknis, tapi juga strategi produksi untuk bisnis yang lebih kompetitif.

Perbedaan Cetak Offset dan Digital Printing


Mesin Cetak Offset Separasi Warna

Dalam dunia percetakan, terdapat dua metode utama yang paling sering digunakan, yaitu cetak offset dan digital printing. Keduanya memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing, tergantung pada kebutuhan produksi, jumlah cetak, hingga hasil akhir yang diinginkan. Memahami perbedaan keduanya sangat penting bagi pelanggan maupun pelaku usaha percetakan agar bisa memilih metode yang tepat.

Cetak offset merupakan teknik cetak tradisional yang menggunakan pelat logam untuk mentransfer gambar ke media kertas melalui silinder tinta. Offset ideal untuk mencetak dalam jumlah besar karena biaya cetak per lembarnya menjadi lebih murah jika jumlahnya banyak. Hasil warna cetak offset juga sangat tajam dan konsisten karena sistem pewarnaan yang presisi.

Sebaliknya, digital printing menggunakan sistem cetak langsung dari file komputer ke kertas, tanpa perlu pelat. Teknologi ini sangat cocok untuk cetakan dalam jumlah sedikit, personalisasi, atau cetak cepat. Misalnya untuk mencetak kartu nama, brosur, atau undangan dalam jumlah kecil namun dengan waktu pengerjaan yang singkat.

Salah satu keunggulan digital printing adalah kemampuannya mencetak variabel data, seperti nama berbeda pada setiap halaman. Sementara itu, offset unggul dalam hal efisiensi biaya jika cetakan melebihi 500 lembar. Oleh karena itu, memilih jenis cetak perlu mempertimbangkan volume produksi dan target waktu.

Dari sisi kualitas, cetak offset menghasilkan warna lebih solid terutama dalam warna blok besar, sedangkan digital printing cenderung punya gradasi warna lebih halus. Namun dengan perkembangan mesin digital terkini, selisih kualitas ini semakin tipis, bahkan bisa dikompensasikan dengan pengaturan profil warna.

Untuk kebutuhan bisnis percetakan, mengetahui waktu, biaya, dan jenis produk yang akan dicetak sangat menentukan metode mana yang lebih menguntungkan. Digital printing cocok untuk usaha skala kecil dan cepat, sedangkan offset masih menjadi raja di industri besar seperti cetak buku, koran, dan majalah.

Memahami perbedaan cetak offset dan digital printing tidak hanya penting dari sisi teknis, tapi juga bisa menghemat biaya dan mempercepat waktu produksi. Dengan informasi ini, Anda bisa lebih bijak memilih layanan cetak yang sesuai kebutuhan dan anggaran Anda.

Jenis Printer Untuk Proofing Desain Percetakan


Mesin Proofing Cetak Separasi Warna
Dalam dunia percetakan profesional, proses proofing desain sangat penting untuk memastikan hasil akhir sesuai dengan ekspektasi klien. Proofing adalah tahap uji cetak yang digunakan untuk mengecek akurasi warna, tata letak, dan detail desain sebelum dicetak massal. Untuk mendapatkan hasil proof yang mendekati cetakan akhir, diperlukan printer dengan kemampuan khusus dan akurasi tinggi. Hal ini berlaku baik untuk percetakan sablon manual maupun mesin cetak offset atau digital.

Untuk percetakan sablon, proofing biasanya dilakukan menggunakan printer inkjet yang mampu mencetak pada kertas transfer atau film transparan. Printer ini digunakan untuk membuat film separasi warna (color separation), yang akan dijadikan acuan saat pembuatan screen. Beberapa merek populer seperti Epson Stylus T1100 atau Epson L1800 sering dipakai karena dapat mencetak dalam format A3 dengan resolusi tinggi. Teknik proofing ini membantu menghindari kesalahan dalam pemisahan warna spot seperti CMYK atau warna khusus (Pantone).

Berbeda dengan sablon, untuk mesin cetak offset atau digital, proofing memerlukan printer dengan presisi warna yang sangat akurat. Salah satu jenis printer terbaik untuk keperluan ini adalah printer inkjet wide format dengan teknologi 8 atau 12 warna, seperti Epson SureColor P-series atau Canon imagePROGRAF. Printer ini mendukung pencetakan warna dengan akurasi tinggi, serta mampu mencetak pada kertas proofing khusus seperti kertas semi-matte atau gloss proof paper.

Sistem proofing untuk mesin cetak offset biasanya sudah terintegrasi dengan RIP Software (Raster Image Processor) yang memungkinkan pengendalian warna secara menyeluruh. RIP software akan menyesuaikan profil warna dari file digital agar sesuai dengan karakteristik mesin cetak sebenarnya. Dengan kombinasi printer proof dan software ini, desainer bisa mengevaluasi seberapa dekat warna proof dengan hasil cetakan offset di mesin Heidelberg, Komori, atau Ryobi.

Selain kualitas warna, proofing juga membantu mengecek kesalahan desain, seperti font hilang, gambar pecah, atau posisi layout yang tidak presisi. Oleh karena itu, printer proofing tidak hanya digunakan oleh bagian produksi, tapi juga oleh desainer grafis dan prepress. Bahkan beberapa studio desain memiliki printer proof sendiri untuk mengurangi risiko revisi besar saat desain sudah dikirim ke percetakan.

Untuk proofing desain produk seperti kemasan, label, atau brosur lipat, printer dengan kemampuan duplex (cetak bolak-balik) dan variasi media sangat dibutuhkan. Printer seperti HP DesignJet atau Epson EcoTank Pro bisa digunakan untuk mencetak mock-up yang mendekati hasil akhir. Hal ini memudahkan klien untuk melihat dan merasakan bentuk produk sebelum dicetak massal.

Secara umum, jenis printer proofing yang digunakan sangat bergantung pada jenis cetakan dan kebutuhan produksi. Percetakan sablon lebih cocok dengan printer inkjet format A3 untuk film separasi, sementara percetakan offset atau digital memerlukan printer high-end dengan sistem manajemen warna profesional. Dengan proses proofing yang baik, kualitas cetak bisa lebih terjamin, meminimalisir kesalahan produksi, dan tentunya meningkatkan kepercayaan klien.

Mesin Cetak Heidelberg SORM 72 dalam Industri Percetakan Skala Besar


Mesin cetak Heidelberg SORM 72 adalah salah satu mesin offset legendaris yang telah membuktikan kemampuannya di industri percetakan skala besar. Mesin buatan Jerman ini dikenal karena kekuatan, ketahanan, dan kualitas hasil cetaknya yang luar biasa. Didesain untuk kebutuhan produksi tinggi, SORM 72 mampu mencetak hingga 13.000 lembar per jam dengan presisi yang sangat baik.

Dengan ukuran maksimum kertas 720 x 520 mm, mesin ini sangat cocok digunakan untuk mencetak majalah, poster, kemasan produk, hingga publikasi komersial berskala besar. Teknologi pengumpan kertas vakum dan sistem penyemprot menjadikan alur kerja lebih lancar dan minim gangguan. Kualitas hasil cetaknya sangat tajam, mampu mencetak desain kompleks dan gambar beresolusi tinggi dengan sempurna.

Namun, di balik keunggulannya, SORM 72 juga memiliki beberapa kekurangan. Ukurannya besar dan berat sehingga membutuhkan ruang produksi luas serta fondasi yang kuat. Konsumsi listriknya tergolong tinggi, dan karena merupakan produk impor, ketersediaan teknisi dan suku cadang di beberapa wilayah bisa menjadi tantangan. Meskipun begitu, nilai investasi jangka panjang dari mesin ini tetap tinggi berkat daya tahannya.

Keunggulan lain dari mesin cetak offset Heidelberg SORM 72 adalah kemampuannya mendukung produksi cetak dalam volume besar tanpa mengorbankan kualitas. Mesin ini sangat cocok bagi percetakan yang ingin naik kelas ke industri skala besar dengan standar profesional. Jika dirawat dengan baik, mesin ini bisa beroperasi selama puluhan tahun dengan performa yang tetap stabil.

Secara keseluruhan, Heidelberg SORM 72 adalah solusi ideal bagi percetakan yang fokus pada efisiensi produksi dan kualitas cetak tinggi. Mesin ini unggul dalam ketahanan, presisi, dan kecepatan. Cocok untuk bisnis percetakan besar yang membutuhkan mesin handal untuk menangani proyek cetak dalam jumlah masif setiap harinya.

Mengenal Mesin Cetak Offset Heidelberg SORM 72: Kekuatan Jerman dalam Industri Percetakan


Mesin cetak offset Heidelberg SORM 72 adalah salah satu produk legendaris dari Heidelberg, produsen mesin cetak asal Jerman yang dikenal dengan kualitas dan ketangguhannya. Mesin ini banyak digunakan di industri percetakan profesional sejak akhir tahun 1970-an hingga 1990-an, dan hingga kini masih banyak dicari karena performa dan daya tahan luar biasa. Dengan ukuran cetak maksimum 720 x 520 mm, mesin ini mampu mencetak berbagai produk besar seperti majalah, poster, dan kemasan komersial.

Salah satu keunggulan utama SORM 72 adalah kemampuan mencetak dalam volume tinggi dengan kecepatan mencapai 13.000 lembar per jam. Mesin ini juga dilengkapi dengan sistem penyemprotan dan pengumpan vakum otomatis yang menjadikan alur cetak lebih stabil dan minim gangguan. Kualitas hasil cetak sangat tajam dan akurat, sehingga cocok untuk mencetak desain beresolusi tinggi seperti fotografi, gradasi warna, dan teks kecil yang detail.

Mesin ini menggunakan sistem tinta konvensional berbasis rol, dengan kontrol distribusi tinta yang presisi. Selain itu, SORM 72 memiliki sistem pelat offset aluminium yang kompatibel dengan proses CTP (Computer to Plate) modern, sehingga masih relevan digunakan di era digital. Daya tahan komponennya yang terbuat dari baja Eropa menjadikan mesin ini bisa beroperasi puluhan tahun jika dirawat dengan baik.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika Anda ingin menggunakan atau membeli mesin cetak Heidelberg SORM 72 bekas. Ukuran fisik mesin ini besar dan berat, membutuhkan ruang produksi yang luas serta fondasi lantai yang kuat. Konsumsi listriknya juga cukup tinggi dibanding mesin offset skala kecil. Selain itu, karena merupakan produk impor Eropa, suku cadang dan teknisinya tidak selalu mudah ditemukan di setiap kota.

Meski begitu, Heidelberg SORM 72 tetap menjadi mesin cetak offset profesional yang layak dipertimbangkan untuk percetakan berskala besar. Bagi pemilik percetakan yang fokus pada produksi cetak dalam jumlah besar dan kualitas premium, mesin ini masih menjadi investasi jangka panjang yang bernilai. Kombinasi antara kekuatan, presisi, dan kecepatan cetak membuatnya unggul di kelasnya, bahkan di tengah kemajuan mesin cetak digital modern.

Review Lengkap Mesin Cetak Offset Oliver 52 – Solusi Cetak Komersial Berkualitas dan Efisien


Mesin cetak Oliver 52 adalah salah satu mesin offset legendaris yang masih banyak digunakan di industri percetakan kecil hingga menengah. Meskipun tergolong mesin lawas, Oliver 52 tetap menjadi pilihan favorit karena kualitas cetaknya yang konsisten, daya tahan tinggi, serta harganya yang relatif terjangkau. Dalam artikel ini, kita akan mengulas secara lengkap spesifikasi, kelebihan, kekurangan, dan keunggulan mesin cetak Oliver 52 dibanding mesin cetak lainnya.

Spesifikasi Umum Mesin Cetak Oliver 52

Mesin cetak ini diproduksi oleh Sakurai, produsen mesin cetak ternama asal Jepang. Oliver 52 termasuk dalam kategori mesin cetak offset sheet-fed berukuran sedang yang cocok untuk mencetak brosur, katalog, kemasan, dan dokumen bisnis berkualitas tinggi.

Nama Lengkap : Sakurai Oliver 52
Jenis Mesin : Offset printing (sheet-fed)
Ukuran Maksimum Kertas : 520 mm x 375 mm (sekitar ukuran folio)
Jumlah Warna : Umumnya 1 warna atau 2 warna (beberapa versi ada 4 warna)
Kecepatan Cetak : Sekitar 10.000 lembar per jam
Jenis Plat : Plat offset berbasis aluminium (kompatibel dengan CTP dan analog)
Sistem Tinta : Konvensional (beberapa model mendukung tinta berbasis UV)
Sistem Air : Dilengkapi dengan aliran air konvensional atau alkohol (dampening system)
Sistem Pengumpan : Sheet-fed (penyuplai kertas lembaran otomatis)


     Keunggulan Mesin Cetak Oliver 52

  1. Kualitas Cetak Tinggi
    Mesin ini mampu menghasilkan cetakan dengan resolusi tinggi dan stabil, cocok untuk pekerjaan cetak presisi seperti kemasan dan brosur berwarna.

  2. Ukuran Compact dan Fleksibel
    Dibanding mesin cetak besar seperti Heidelberg Speedmaster, Oliver 52 relatif lebih kecil dan hemat tempat, cocok untuk usaha percetakan menengah.

  3. Mudah Dioperasikan
    Panel kontrol mesin mudah dipahami, dengan setup yang relatif cepat bagi operator berpengalaman.

  4. Efisiensi Produksi
    Kapasitas cetak hingga 10.000 lembar per jam menjadikannya efisien untuk pekerjaan volume sedang hingga tinggi.

  5. Ketersediaan Suku Cadang dan Teknisi
    Karena cukup populer, suku cadang dan teknisi untuk Oliver 52 relatif mudah ditemukan, terutama di kawasan Asia.


     Kekurangan Mesin Cetak Oliver 52

Mesin ini memang handal, namun tetap ada kekurangan yang perlu diperhatikan sebelum membeli:
  1. Mesin Tua (Umumnya Produksi 1990-an)
    Banyak unit di pasaran merupakan unit bekas (second) yang sudah berusia 20–30 tahun, sehingga rawan perawatan dan harus dicek secara menyeluruh sebelum membeli.

  2. Tidak Mendukung Digital Workflow Secara Penuh
    Mesin ini tidak sepenuhnya kompatibel dengan sistem digital modern seperti CIP3/4 kecuali ditambah perangkat tambahan.

  3. Terbatas pada Ukuran Kertas Sedang
    Ukuran maksimum hanya 52 cm lebar (sekitar A2 kecil), sehingga tidak cocok untuk cetakan berukuran besar atau poster skala besar.

  4. Tidak Hemat Energi
    Konsumsi daya listrik relatif besar karena menggunakan motor lama dan sistem mekanik yang berat.


    Keunggulan Utama Oliver 52 Dibanding Kompetitor

Di antara banyak pilihan mesin cetak offset, Oliver 52 unggul dari segi harga, keawetan, dan kemudahan perawatan. Dibandingkan dengan Heidelberg GTO, Komori Sprint, atau Ryobi 512, mesin ini:
  • Harga Terjangkau
    Mesin ini banyak tersedia di pasar mesin bekas dengan harga yang jauh lebih murah dibanding mesin Heidelberg atau Komori baru.

  • Kinerja Stabil & Terbukti
    Banyak pelaku usaha cetak di Indonesia menyukai Oliver 52 karena performanya yang konsisten, mudah diservis, dan awet bila dirawat dengan baik.

  • Ideal untuk Entry-Level Offset
    Bagi usaha cetak kecil hingga menengah yang ingin beralih dari cetak digital ke offset, Oliver 52 menjadi pilihan entry-level yang sangat ideal.


Keunggulan Mesin Cetak Oliver 52 Dibanding Kompetitor

Di antara banyak pilihan mesin cetak offset, Oliver 52 unggul dari segi harga, keawetan, dan kemudahan perawatan. Dibandingkan dengan Heidelberg GTO, Komori Sprint, atau Ryobi 512, mesin ini:

  • Lebih terjangkau dan tersedia luas di pasar mesin bekas.

  • Mesin yang sudah terbukti tahan lama dan performa tetap stabil setelah bertahun-tahun digunakan.

  • Ideal untuk pemula di industri cetak offset yang ingin naik kelas dari printer digital ke cetak offset komersial.


Tips Membeli Mesin Cetak Oliver 52 Bekas

Jika Anda ingin membeli mesin ini, pastikan memperhatikan:

  • Cek kondisi silinder, blanket, dan roll tinta

  • Pastikan motor dan sistem air berfungsi baik

  • Tanyakan riwayat servis dan jam kerja mesin

  • Pilih penjual yang memberikan garansi dan uji cetak langsung


Mesin cetak Oliver 52 adalah pilihan tepat bagi percetakan yang ingin meningkatkan kapasitas produksi dengan hasil cetak profesional. Meskipun tergolong mesin lawas, Oliver 52 tetap relevan dan efisien digunakan di era sekarang — terutama dengan perawatan yang baik.

Dengan harga yang lebih bersahabat dibanding mesin cetak offset baru, Oliver 52 menawarkan nilai investasi yang solid untuk pelaku usaha percetakan skala kecil-menengah di Indonesia.

Jejak Sejarah Percetakan dari Gutenberg hingga Indonesia


Sejarah percetakan adalah bagian penting dalam perjalanan peradaban manusia. Sejak dahulu, manusia telah mencoba berbagai cara untuk menyebarkan informasi, mulai dari ukiran di batu, tulisan tangan di perkamen, hingga akhirnya ditemukan teknik cetak. Kemunculan teknologi ini menjadi tonggak besar dalam sejarah dunia karena memungkinkan penyebaran ilmu pengetahuan secara luas dan cepat.

Penemuan paling revolusioner dalam dunia percetakan klasik terjadi pada abad ke-15, ketika seorang tukang emas asal Jerman bernama Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak dengan sistem huruf lepas. Gutenberg menciptakan teknologi yang menggabungkan cetakan logam yang bisa dipindah-pindah (movable type), tinta berbasis minyak, dan mesin cetak bertekanan. Inovasi ini melahirkan produksi buku massal untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia.

Salah satu karya paling terkenal dari mesin cetak Gutenberg adalah Gutenberg Bible yang dicetak sekitar tahun 1455. Ini menjadi bukti awal dari kemampuan teknologi percetakan dalam menyebarkan dokumen penting ke berbagai kalangan. Sebelum teknologi ini hadir, satu buku bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk disalin secara manual. Setelah adanya mesin cetak, jumlah salinan buku meningkat pesat, dan akses terhadap pengetahuan menjadi lebih terbuka.

Setelah sukses di Eropa, perkembangan percetakan modern menyebar ke seluruh dunia. Di Asia, teknik cetak sebenarnya sudah dikenal lebih awal, terutama di Tiongkok dan Korea. Namun, sistem cetak di Asia lebih bersifat blok cetak (woodblock printing), bukan huruf lepas. Adaptasi mesin cetak gaya Gutenberg menjadi tonggak perubahan besar dalam produksi buku dan surat kabar di banyak negara.

Percetakan di Indonesia mulai berkembang pada abad ke-17 ketika penjajah Belanda membawa teknologi cetak ke Nusantara. Penerbitan pertama yang tercatat adalah kitab Injil dalam bahasa Melayu pada tahun 1629, yang dicetak di Batavia (sekarang Jakarta). Sejak saat itu, dunia percetakan Indonesia mulai berkembang pesat, terutama dengan kehadiran sekolah misi, surat kabar, dan penerbitan lokal.

Masuknya teknologi percetakan ke Indonesia membawa dampak besar terhadap penyebaran informasi dan pendidikan. Surat kabar pertama di Indonesia, Bataviaasch Nieuwsblad, mulai terbit pada abad ke-19. Tak lama kemudian, banyak terbitan lokal bermunculan dalam bahasa Belanda, Melayu, Jawa, hingga bahasa daerah lainnya. Dunia pergerakan nasional juga tak lepas dari peran besar percetakan dalam menyebarkan semangat kebangsaan dan pendidikan.

Di masa kemerdekaan, industri percetakan Indonesia mengalami perkembangan signifikan. Percetakan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan administratif dan buku pelajaran, tetapi juga menjadi alat penting dalam penyebaran media massa dan budaya populer. Berbagai perusahaan percetakan swasta dan milik negara bermunculan untuk memenuhi kebutuhan cetak nasional.

Kini, di era digital, percetakan klasik mengalami banyak transformasi. Meski teknologi digital mulai menggantikan beberapa fungsi cetak, namun keberadaan mesin cetak offset dan digital printing masih sangat penting. Buku, majalah, brosur, dan media cetak lainnya tetap memiliki tempat tersendiri di masyarakat, terutama dalam dunia pendidikan, seni, dan bisnis.

Mempelajari sejarah percetakan bukan sekadar menengok masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat memengaruhi perkembangan budaya dan peradaban. Dari Gutenberg hingga ke pelosok Nusantara, jejak perjalanan percetakan telah menciptakan dampak besar bagi dunia pendidikan dan literasi.

Jenis Tipe Kertas Cetak Mencetak


Kertas BC
Kertas ConcordKertas LinenAda banyak jenis tipe kertas yang sering digunakan untuk keperluan cetak mencetak. Mulai dari kertas HVS yang umum dipakai untuk keperluan ngeprint sehari-hari hingga kertas jenis tertentu untuk keperluan cetak undangan. Produk kertas tersebut banyak jenisnya, ada yang bisa didapatkan dengan mudah ditoko penjual buku tulis atau alat tulis kantor, ada juga yang harus dibeli di toko khusus penjual kertas percetakan. Inilah diantara beberapa jenis tipe kertas yang biasa dipakai untuk keperluan percetakan:

HVS (houtvrij schrijfpapier). Jenis kertas ini sering digunakan untuk keperluan mencetak buku,kop surat, fotocopy, dan print. Teksturnya sedikit kasar dan tidak mengkilap. Kertas HVS yang umum dijual dengan ukuran A3, F4, A4, Letter, A5, B5 dan gramatur mulai dari 60 gram, 70 gram, 80 gram. Untuk keperluan tertentu kertas HVS tersedia dengan gramasi 100 gram dengan ukuran plano.

ARTPAPER (Coated Paper). Jenis kertas artpaper memiliki permukaan licin dan mengkilap dikedua sisinya, kertas ini menghasilkan cetak raster yang sangat halus. Gramatur yang biasa digunakan untuk keperluan percetakan antaralain 100 gram, 120 gram dan 150 gram dengan ukuran plano 65 cm x 100 cm, 79 cm x 109 cm. Kertas artpaper sering dipakai untuk mencetak leaflet, brosur, flayer, kalender, cetak sampul buku, cetak majalah.

ARTCARTOON. Jenis kertas ini sama dengan kertas artpaper yang memiliki permukaan licin dan mengkilap dikedua sisinya. Menghasilkan cetak raster yang sangat halus dengan gramatur 190 gram, 210 gram, 260 gram hingga 310 gram dengan ukuran plano 65 cm x 100 cm, 79 cm x 109 cm. Kertas artcartoon sering dipakai untuk mencetak poster, cover buku, cover majalah, kalender, map, hingga cetak undangan.

MATTE PAPER. Jenis kertas ini tidak memiliki lapisan mengkilap dikedua sisinya namun mirip dengan kertas artpaper. Matte Paper digunakan untuk mencetak isi buku, isi majalah, kalender dan keperluan cetak lainnya. Kertas Matte tersedia dengan ukuran plano 65 cm x 100 cm, 79 cm x 109 cm.

IVORY. Kertas Ivory mirip dengan artcarton namun satu sisinya tidak licin dan mengkilap. Kertas Ivory tersedia dengan ukuran plano dan gramatur 210 gram, 230 gram, 250 gram, 270 gram, 300 gram dan 350 gram. Satu sisinya yang mengkilap menghasilkan cetak raster yang sangat halus. Kertas Ivory biasa digunakan untuk mencetak Cover buku, News Letter, Map, Poster, Kalender, Kartu Nama, dll.

KERTAS BC, CONCORD (CONQUERROR), LINEN JEPANG. Kertas jenis ini memiliki tekstur yang kasar. Kertas BC, Concord, Linen biasanya digunakan untuk mencetak sertifikat, Cetak Undangan, Kartu nama, Sampul buku dengan berbagai pilihan warna. Ukuran gramatur kertas yang umum dijual di toko kertas 220 gram dan 250 gram.

JASMINE PAPER. Kertas Jasmine memiliki tekstur halus dengan glitter dan pilihan warna menarik. Kertas Jasmine umum dipakai untuk mencetak undangan pernikahan dengan gramatur 150 gram dan 210 gram.

SAMSON CRAFT (RECYCLE). Kertas Samson Craft merupakan kertas daur ulang, berwarna coklat. Kertas ini sering digunakan untuk kebutuhan cetak mencetak shopping bag (Paper Bag), packaging, pembungkus, sampul nota atau bon, dll dengan gramatur 125 gram sampai 250 gram.

DUPLEX. Kertas karton memiliki warna putih permukaan licin satu sisinya tidak mengkilap sedikit kecoklatan. Kertas duplex dengan gramatur 250gr, 270gr, 310gr, 350gr dan 400gr. Kertas duplex biasa digunakan untuk mencetak kemasan produk, dus makanan, dus sepatu, souvenir dan Gift.

FANCY PAPER. Jenis kertas Fancy digunakan untuk kebutuhan cetak mencetak berbagai Kartu, mulai dari kartu nama, cetak undangan pernikahan, cetak profil company.

NCR (NICE CARBON). Jenis kertas ini mengandung karbonis, umumnya bisa digunakan minimal 2 ply (rangkap dua). Kertas NCR biasa digunakan untuk cetak nota, faktur penjualan, form surat jalan, dll. Kertas jenis NCR ini terdiri dari NCR TOP, NCR MIDDLE, dan NCR BOTTOM.


Cetak Kartu Nama


Desain Cetak Kartu NamaKartu nama tak hanya sebagai alat identitas diri. Bagi pebisnis atau kalangan perkantoran, kartu nama menjadi hal penting untuk memberikan informasi mengenai bidang usaha dan pekerjaannya. Kini penampilan kartu nama berkembang dengan berbagai bentuk desain yang menarik. Untuk mencetak kartu nama dengan desain unik dan mewah sudah tentu memerlukan biaya tidak sedikit. Bukan berarti desain kartu nama model lama telah ketinggalan jaman, namun pada intinya kartu nama digunakan sebagai alat untuk bertukar informasi mengenai pekerjaan, perusahaan, atau bidang lainnya kepada individu atau kelompok.

Berikut ini contoh desain kartu nama jadul dengan variasi warna pilihan. Anda bisa mendownloadnya dan tinggal mengubah text sesuai kebutuhan. Download Desain

Rakel Sablon (Screen Printing Squeegee)


Rakel Sablon Screen Squeegee
Rakel Sablon (Screen Printing Squeegee)

Rakel atau screen printing squeegee merupakan peralatan wajib yang digunakan untuk menyablon. Rakel digunakan untuk menekan cat sablon dari screen ke bahan yang akan dicetak. Rakel sablon sangat beragam jenisnya disesuaikan dengan kebutuhannya, bentuk ujungnya berbeda disesuaikan dengan keperluan untuk bahan menyablon.

Pemilihan kelenturan karet rakel untuk menyablon digunakan sesuai kebutuhannya. Pada umumnya bahan yang lunak dan tumpul akan lebih banyak mengalirkan banyak tinta pada media cetak, sedangkan bahan karet rakel yang keras dan tajam akan mengalirkan tinta lebih sedikit sehingga proses pengeringan pada tinta sablon lebih cepat.

Rakel Sablon - Screen Printing Squeegee

Sifat dan kelenturan ujung karet rakel sablon (Screen Printing Squeegee):

  • A. Karet rakel dengan ujung dua sisi lancip digunakan untuk menyablon benda-benda yang tidak menyerap tinta, seperti menyablon plastik, kaca, dan bahan-bahan lainnya yang tidak menyerap tinta. Rakel lancip juga digunakan untuk menghasilkan gambar detail raster.
  • B. Karet rakel dengan dua sisi lancip dan unjungnya datar, digunakan untuk menyablon benda-benda yang tidak menyerap tinta seperti menyablon keramik.
  • C. Karet rakel dengan ujung persegi, digunakan untuk menyablon diatas permukaan benda datar. Bentuk rakel unjungnya persegi memberikan tekanan penyaluran tinta paling luas pada media sablon. Rakel ini digunakan untuk menyablon kertas bertekstur kasar, carton, atau dus.
  • D. Karet rakel dengan ujung bulat tumpul, digunakan untuk menyablon bahan yang banyak membutuhkan tinta, seperti menyablon text block atau untuk plat. Karakter rakel ini dapat menyaput jumlah tinta yang banyak.
  • E. Karet rakel dengan ujung miring, digunakan untuk menyablon seperti pada kertas sticker vinyl atau plastik yang bertekstur halus. Rakel dengan satu ujung miring tajam ini digunakan juga dalam penyablonan yang memiliki karakter tidak menyerap tinta.
  • F. Karet rakel tumpul ujung sisinya sedikit bulat, digunakan untuk menyablon bahan yang menggunakan banyak tinta, seperti kaos atau spanduk.

Sablon Sticker Vinyl


Cetak Sablon dengan Bahan Sticker VinylPercobaan cetak sablon sticker dengan bahan vinyl sticker papper. Mencetak menggunakan bahan stiker vinyl berbeda dengan teknik cetak seperti pada kertas sticker biasa. Untuk mempercepat pengeringan tinta sablon bisa menggunakan cairan pengering khusus tinta atau bisa menggunakan hairdryer. Bahan kertas sticker vinyl lebih awet dibandingkan sticker cromo, namun harga kertas vinyl lebih mahal dibanding harga kertas sticker biasa.

Jenis Screen Sablon dan Bahan Cetak


Screen Printing
Screen Sablon
Screen, monyl atau kain gasa adalah kain yang memiliki pori-pori dan tekstur sangat halus. Kain ini biasa digunakan untuk mencetak gambar pada benda yang akan di sablon. Lubang pori-pori pada screen ini berfungsi untuk menyaring dan menentukan jumlah tinta yang keluar. Berdasarkan tingkatannya screen memiliki karakter yang dikenal secara umum antara lain sebagai berikut:

Screen Kasar (48 T - 90 T)
Screen kasar memiliki lubang pori-pori yang cukup besar. Screen ini mampu menyalurkan tinta cetak dalam jumlah yang cukup banyak. Karena memiliki nomor kerapatan 48 T (Thick )- 90 T (Thick) screen jenis ini cocok untuk segala macam pekerjaan cetak sablon. Semakin besar kerapatan screen, kerapatan lubang pori-porinya semakin tinggi dan permukaan screen-nya semakin halus. Screen kasar ini umumnya digunakan untuk menyablon bahan yang mudah menyerap cat seperti kain tekstil, spanduk, kaos atau kemeja. Karena bahan tekstil tersebut mudah menyerap cairan seperti minyak dan tinta.

Screen Sedang (120 T - 150 T)
Screen ini memiliki tingkat kerapatan lubang pori-pori agak rapat. Screen Sedang biasa digunakan untuk menyablon bahan atau benda yang tidak terlalu menyerap cat, seperti kertas, stiker, karton, kulit imitasi halus.

Screen Halus (165 T - 200 S)
Screen halus memiliki lubang pori-pori yang sangat kecil dengan tingkat kerapatan lubang pori-porinya cukup rapat, sehingga screen ini hanya dapat menyalurkan tinta dalam jumlah sedikit. Screen halus tersedia dengan kerapatan 165 T - 200 S (small) dengan karakter benang screen tipis. Screen jenis ini cocok untuk menyablon dengan gambar seperti raster (halftone). Screen halus ini bisa untuk menyablon logam, plastik, mika, dan kaca.

Screen Printing Frame

Jenis-jenis kain screen sablon sesuai bahan yang dicetak:

Screen 48 T - 55 T → untuk menyablon handuk, sprey, karung, atau selimut
Screen 62 T → untuk mencetak sablon dengan gambar timbul seperti kaos, lem sticker (floating)
Screen 77 T → untuk menyablon kaos dan sablon spanduk
Screen 90 T → dipergunakan untuk mencetak sablon timbul dengan motif halus, kaca, atau bahan kain tekstil
Screen 120 T → menyablon kertas karton, kayu, kulit imitasi, atau logam halus
Screen 150 T → untuk menyablon kertas, imitasi, mika.
Screen 165 T → digunakan untuk menyablon plastik, kertas, logam halus, mika, sablon gelas, piring dan keramik
Screen 180 S → digunakan untuk menyablon plastik dan jenis kertas yang bertekstur halus.
Screen 200 S → digunakan untuk mencetak halftone/raster yang berkerapatan tinggi.

Cetak Kalender Anak Tahun 2014


Mencetak kalender oplah sedikit dengan proses cetak digital printing. Cetak kalender anak tahun 2014 limited edition. Format kertas ukuran A3+. Desain kombinasi gambar wallpapers dan foto anak. Ini contoh desainnya yang sudah dicetak.

Panduan Lengkap Format Kertas untuk Percetakan: Ukuran, Fungsi, dan Aplikasi Praktis


Dalam dunia percetakan dan dokumentasi profesional, pemahaman tentang format kertas menjadi hal yang sangat penting. Ukuran kertas seperti A4, A3, dan F4 bukan hanya sekadar angka—masing-masing memiliki fungsi spesifik dalam proses produksi cetak, administrasi, hingga kebutuhan grafis. Standar ukuran kertas juga membantu menjaga konsistensi hasil cetak di berbagai media.

Banyak pelaku usaha percetakan pemula hingga profesional masih sering kebingungan dalam memilih ukuran kertas yang tepat untuk setiap proyek. Artikel dalam kategori ini akan membantu Anda mengenal lebih dalam tentang standar ISO, perbedaan antar ukuran, hingga cara konversi satuan dari milimeter ke centimeter atau pixel.

Dengan memahami format kertas yang benar, Anda akan lebih efisien dalam merancang desain cetak, memilih bahan, serta menyesuaikan mesin cetak yang digunakan. Semua informasi penting ini telah dirangkum dalam artikel-artikel informatif dan praktis yang dapat Anda telusuri di halaman ini.


Mesin Toko 820 → Ukuran Kertas: 29,5 x 37,9 cm → Area Cetak: 25 x 34 cm
Mesin Toko 820L → Ukuran Kertas: 29,5 x 39,2 cm → Area Cetak: 25 x 36,5 cm
Toko 4700N → Ukuran Kertas: 34 x 47 cm → Area Cetak: 30,5 x 43,2 cm
Gestetner 211H → Ukuran Kertas: 26,4 x 36,5 cm → Area Cetak: 26,4 x 34,5 cm
Gestetner 411CD → Ukuran Kertas: 28 x 39,3 cm → Area Cetak: 24,8 x 33,6 cm
Hamada 700CD → Ukuran Kertas: 36,5 x 47 cm → Area Cetak: 34,5 x 45,6 cm
Hamada 800CDX → Ukuran Kertas: 51,5 x 36,5 cm → Area Cetak: 51,2 x 34,5 cm
GTO-46 → Ukuran Kertas: 32 x 46 cm → Area Cetak: 31 x 45 cm
GTO-52 → Ukuran Kertas : 36 x 52 cm → Area Cetak: 34 x 50 cm
SOR-M → Ukuran Kertas : 52 x 74 cm → Area Cetak : 51 x 72 cm
SOR-D → Ukuran Kertas: 71.5 x 91.5 cm → Area Cetak: 70 x 90 cm
SOR-S → Ukuran Kertas: 70 x 100 → Area Cetak: 69 x 98 cm
Oliver58 → Ukuran Kertas: 44 x 58 → Area Cetak: 42 x 56 cm
Oliver-52 → Ukuran Kertas: 36 x 52 → Area Cetak: 34 x 50 cm
Oliver-46 → Ukuran Kertas: 33 x 48 → Area Cetak: 32 x 47 cm
Oliver-72 → Ukuran kertas: 50 x 70 → Area Cetak: 48 x 68 cm
Oliver-58E → Ukuran Kertas: 58 x 45 cm → Area Cetak: 57 x 44 cm
Oliver-94 → Ukuran Kertas: 94,5 x 64 cm → Area Cetak: 94 x 62 cm
Oliver-6 → Ukuran Kertas : 48,5 x 32 cm → Area Cetak : 48 x 31,2 cm
Oliver-6L → Ukuran Kertas : 52 x 36 cm → Area Cetak : 50,5 x 35 cm
Oliver-8 → Ukuran Kertas : 58 x 44,5 cm → Area Cetak : 57 x 43,2 cm
Oliver-12 → Ukuran Kertas : 72 x 51 cm → Area Cetak : 71 x 50 cm
RYOBY 48 → Ukuran Kertas :35 x 48 cm → Area cetak 33 x 46 cm
RYOBY → Ukuran Kertas : 48 x 65 cm → Area Cetak : 46 x 63 cm

Pengaruh Ukuran Format Area Cetak


Setiap perubahan format area cetak setidaknya akan berpengaruh juga terhadap harga jual. Berdasarkan pengalaman di percetakan, terkadang pelanggan tidak mengetahui jika merubah format ukuran cetak akan berpengaruh terhadap harga jual per lembarnya. Apalagi jika oplah semakin berkurang dari minimal cetak, bisa jadi membuat printowner dan maklooner dibikin puyeng menghitung ulang rumusnya.

Namanya juga pelanggan setiap orang tentu akan berbeda pemahaman, ada yang faham dan ada juga gak faham tinggal kita menjelaskan saja problemnya.

Kali ini saya tidak akan mengulas problematika pengalaman dunia percetakan. Dalam setiap kendala tentu bisa dicari solusinya yang penting kita bisa menjembatani keinginan pemesan. Kalau sekiranya menguntungkan, ya tinggal dikerjakan dan jika sebaliknya mending gak usah dipaksakan.

Jika anda sebagai petualang bidang percetakan dan selalu bereksperimen dengan berbagai Trik Optimalisasi Mesin Cetak, tak ada salahnya jika mengetahui format area cetak pada mesin cetak sesuai kebutuhannya.

Mesin Toko 820 → Ukuran Kertas: 29,5 x 37,9 cm → Area Cetak: 25 x 34 cm
Mesin Cetak Toko 820L → Ukuran Kertas: 29,5 x 39,2 cm → Area Cetak: 25 x 36,5 cm
Mesin Cetak Toko 4700N → Ukuran Kertas: 34 x 47 cm → Area Cetak: 30,5 x 43,2 cm
Mesin Gestetner 211 H → Ukuran Kertas: 26,4 x 36,5 cm → Area Cetak: 26,4 x 34,5 cm
Mesin Gestetner 411CD → Ukuran Kertas: 28 x 39,3 cm → Area Cetak: 24,8 x 33,6 cm
Mesin Hamada 700CD → Ukuran Kertas: 36,5 x 47 cm → Area Cetak: 34,5 x 45,6 cm
Mesin Hamada 800CDX → Ukuran Kertas: 51,5 x 36,5 cm → Area Cetak: 51,2 x 34,5 cm
Mesin Cetak GTO46 → Ukuran Kertas: 32 x 46 cm → Area Cetak: 31 x 45 cm
Mesin Cetak GTO52 → Ukuran Kertas : 36 x 52 cm → Area Cetak: 34 x 50 cm
Mesin Cetak SOR M → Ukuran Kertas : 52 x 74 cm → Area Cetak : 51 x 72 cm
Mesin Cetak SOR D → Ukuran Kertas: 71.5 x 91.5 cm → Area Cetak: 70 x 90 cm
Mesin Cetak SOR S → Ukuran Kertas: 70 x 100 → Area Cetak: 69 x 98
Mesin Cetak Oliver 58 → Ukuran Kertas: 44 x 58 → Area Cetak: 42 x 56
Mesin Cetak Oliver 52 → Ukuran Kertas: 36 x 52 → Area Cetak: 34 x 50
Mesin Cetak Oliver 46 → Ukuran Kertas: 33 x 48 → Area Cetak: 32 x 47
Mesin Cetak Oliver 72 → Ukuran kertas: 50 x 70 → Area Cetak: 48 x 68
Mesin Cetak Oliver-58E → Ukuran Kertas: 58 x 45 cm → Area Cetak: 57 x 44 cm
Mesin Cetak Oliver-94 → Ukuran Kertas: 94,5 x 64 cm →Area Cetak: 94 x 62 cm
Mesin Cetak Oliver-6 → Ukuran Kertas: 48,5 x 32 cm → Area Cetak: 48 x 31,2 cm
Mesin Cetak Oliver-6L → Ukuran Kertas: 52 x 36 cm → Area Cetak: 50,5 x 35 cm
Mesin Cetak Oliver-8 → Ukuran Kertas: 58 x 44,5 cm → Area Cetak: 57 x 43,2 cm
Mesin Cetak Oliver-12 → Ukuran Kertas: 72 x 51 cm → Area Cetak: 71 x 50 cm
Mesin Cetak RYOBY 48 → Ukuran Kertas:35 x 48 cm → Area cetak: 33 x 46 cm
Mesin Cetak RYOBY → Ukuran Kertas: 48 x 65 cm → Area Cetak: 46 x 63 cm

Memilih Screen Sablon Sesuai Kebutuhan


Berikut ini beberapa peralatan pokok yang dipergunakan untuk cetak sablon; Screen Sablon, Meja Sablon, Screen Frames, Penjepit Screen Sheet (catok), Coater atau pelapis, Squeegee atau rakel, ditambah alat penunjang lainnya seperti hair dryer (untuk mengeringkan lapisan afrdruk screen), mini water sprayer (untuk proses pengembangan atau pembersihan kimia afdruk).

Screen atau kain gasa adalah kain khusus untuk menyablon yang berfungsi sebagai pembentuk corak gambar di atas benda yang akan di sablon. Karakter teksturnya sangat halus mirip seperti kain sutera dan memiliki jumlah kerapatan pori-pori yang bertingkat. Kerapatan pori-pori pada screen inilah yang banyaknya tinta sablon yang keluar ketika disaput menggunakan rakel (alat penyaput tinta berupa karet yang lentur).

Pada umumnya kain screen yang biasa digunakan untuk menyablon adalah jenis nytal, monyl, dan nyblolt. Ketiga jenis bahan screen ini merupakan kain gasa yang baik karena memiliki sifat tahan terhadap zat-zat kimia, tahan terhadap berbagai kondisi pada saat pencetakan. Screen Sablon biasa memiliki tekanan bentangan pada screen frames (rangka) sekitar lima sampai tujuh persen, jika kurang dari itu maka tekanan yang berulang-ulang ketika disaput oleh rakel akan mempengahuri media gambar yang akan disablon dan menjadi kendur bahkan untuk pemakaian berlurang-ulang bahan screen sablon akan cepat robek.

Screen Sablon dapat dibedakan berdasarkan tingkatan tebal tipis dan kerapatan kain gasa. Untuk membedakan karakter masing-masing tingkatan, screen sablon biasanya ditandai dengan kode T (Thick) dan S (Small). Karena memiliki kerapatan lubang pori-pori yang berbeda, screen sablon secara umum dibagi menjadi tiga macam antara lain:

Screen dengan tekstur Kasar (48T - 90T) artinya screen ini memiliki lubang pori-pori yang cukup besar dan renggang, sehingga mampu menyalurkan tinta dalam jumlah cukup banyak. Biasanya screen 48T-90T digunakan untuk menyablon bahan tekstil semacam sablon kaos atau t-shirt.

Screen dengan tekstur Sedang (120T - 150T)  artinya screen ini memiliki tingkat kerapatan lubang pori-pori agak rapat. Biasanya type screen ini digunakan untuk menyablon bahan yang tidak terlalu menyerap cat, seperti menyablon kertas atau kulit imitasi.

Screen tekstur Halus (165T - 200S) artinya screen ini memiliki tingkat kerapatan lubang pori-pori cukup tinggi, sehingga screen ini hanya dapat menyalurkan tinta lebih sedikit. Untuk jenis screen ini sangat cocok untuk menyablon dengan warna yang lengkap, dapat digunakan untuk menyablon raster. Biasanya penggunaan screeen tersebut yaitu untuk keperluan menyablon bahan-bahan yang tidak menyerap cat, seperti sablon plastik, sablon gelas, dan sablon untuk bahan logam.

Prosfek Usaha Sablon Masih Bagus


Saat ini industri grafika berkembang cukup pesat. Perkembangannya mengikuti kebutuhan dunia industri dalam lingkup luas, maka tak heran jika industri grafika senantiasa dibutuhkan dan memiliki pasar yang prospektif. Sebagai bagian dari industri grafika, cetak sablon memiliki karakter yang tersendiri, baik dari sisi teknis maupun sisi usaha. Secara teknis cetak sablon terbilang praktis dan sederhana untuk diaplikasikan. Dari sisi Usaha, cetak sablon pun tidak memerlukan modal tinggi. Dengan kualitas dan mutu yang baik, usaha cetak sablon mampu bertahan ditengah persaingan industri grafika saat ini, oleh karena itu prospek usaha sablon masih bagus dan bertahan ditengah persaingan saat ini.

Untuk merintis usaha cetak sablon anda pun bisa memulainya secara bertahap. Dengan modal skala kecil industri ini pun bisa tetap berjalan, yang penting ada kemauan kuat, dan kerja keras tak mustahil bisnis cetak sablon akan memberikan peluang usaha lebih baik untuk kedepan. Banyak diantara para pengusaha cetak sablon yang membangun basis usahanya dari modal minim hingga dapat menikmati kesuksesan dari industri tersebut hingga saat ini.

Kelebihan sablon yaitu dapat dikerjakan diberbagai 'medan' cetak. Hal ini dikarenakan teknik cetak sablon dapat dilakukan hampir disemua bidang, baik bidang datar maupun lengkung. Sebagai contoh, mencetak logo/nama pada cenderamata pernikahan yang berupa miniatur gelas -- dalam teknik cetak sablon hal seperti itu bisa dikerjakan walaupun pada bidang lengkung. Anda pun dapat mengembangkan kreasi cetak sablon ini dengan bahan lainnya sesuai kebutuhannya masing-masing.  Namun sayangnya cetak sablon manual sering terbentur kendala tenaga, bayangkan jika anda mendapatkan order sablon cenderamata sebanyak 35.000 biji  :) Apa yang mesti anda lakukan? Ya, tentu saja bersyukur karena mendapat orderan banyak, kitapun bisa mengajak temen-temen yang sepemikiran/seprofesi untuk bergabung dan bekerja bersama, jadi rejeki bisa terbagi.

Mungkin itu saja dulu sekilas gambaran sederhana mengenai usaha cetak sablon, semoga dapat bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik dengan usaha sablon menyablon ini.

Ukuran Kertas Percetakan


Ukuran kertas siap pakai yang kita ketahui untuk keperluan mencetak dokumen pada umummya berukuran A3, A4, dan folio (legal). Ukuran tersebut merupakan perkecilan dari ukuran sebenarnya. Kertas untuk percetakan ini dapat disesuaikan menurut ukuran berdasarkan keperluan pemakaian, seperti kertas A4 atau kertas folio untuk mencetak kopsurat, brosur, dan leaflet. Pada dasarnya ukuran kertas produksi percetakan terdiri dari lembaran-lembaran plano dan ada juga yang berupa rollpaper sebelum akhirnya dipotong sesuai kebutuhan. Kertas percetakan dikategorikan menjadi beberapa ukuran berdasarkan sistem standardisasi Deuctsche Industrie Norm (DIN) yang sudah baku. Berikut ini tabel ukuran kertas berdasarkan kategorinya:


Pada tabel diatas menunjukan 3 (tiga) kategori ukuran kertas yang dibagi menurut standardisasinya. Kategori A adalah ukuran jadi yang dipakai sebagai ukuran dasar, umpamanya ukuran A0 adalah ukuran yang terbesar dan isinya sama dengan meter persegi (841 x 1189 mm = 999949 mm2). Kategori B adalah ukuran kertas sebelum disisir atau dipotong, Kategori C adalah perkecilan dari ukuran pada Kategori B biasanya digunakan untuk keperluan cetak berukuran mini. Dari ketiga ukuran tersebut

Kategori B dan Kategori C sangat bergantung pada Kategori A karena ukuran kategori ini merupakan dasar ukuran sebenarnya. Nah, tabel di atas merupakan gambarkan ukuran kertas setelah dibagi menjadi beberapa kategori ukuran. Untuk lebih jelasnya coba anda perhatikan posisi pemotongan ukuran kertas menurut tabel tadi.


Jadi ukuran dalam ketiga kategori tersebut merupakan standar ukuran dasar dalam pemotongan kertas. Standardisasi ukuran kertas ini sudah sering digunakan dalam bidang percetakan, sehingga kemudian ukuran cetakan yang mengikutinya, semisal ukuran kertas A4 biasa digunakan untuk kopsurat atau keperluan lainnya yang menggunakan dasar ukuran tersebut, begitu pula ukuran kertas A3, A2, A1 dan AO, semua bergantung pada kebutuhan cetak.

Penyebaran Teknik Mencetak


Pada postingan yang lalu sedikitnya telah saya ulas mengenai sejarah teknis mencetak yang ditemukan oleh Johanes Gutenberg di Mainz, Jerman, yang merupakan awal penyebaran teknik mencetak ke benua Eropa setelah terjadi peperangan dikota yang ditempati Gutenberg.

Menurut beberapa sumber, teknik mencetak menyebar diawali sekitar tahun 1500 an. Ditahun tersebut terhitung lebih dari 1000 perusahaan percetakan mulai tersebar. Seni Cetak-mencetak menyebar secara luas ke seluruh Eropa. Bahkan diduga sekitar 40.000 buku dan karya cetak lainnya dikerjakan dimasa ini. Cetakan pertama dinamakan inkunabulas, karena keindahannya hasil cetakan tersebut menjadi barang berharga di museum-museum seluruh dunia. Beberapa jenis karya cetak menggunakan ragam huruf baru seperti pada masa Johanes Gutenberg yang menggunakan typografi (huruf) jenis Gotik dengan berbagai ukuran, tetapi di Eropa bagian selatan sejak tahun 1500 telah diukir dan dikembangkan ke jenis hurup Antiqua yang pertama. Beberapa perusahaan percetakan terkenal di Eropa seperti Calude Garamond di Perancis, John Baskerville di Inggris, dan Giambattista Bodoni di Itali masing masing telah menciptakan jenis-jenis huruf yang terkenal sekaligus menambah koleksi typografi pada masa itu.

Di jaman industrialisasi di Eropa sekitar abad ke 19 terjadi perubahan besar-besaran didunia teknik mencetak ini, beberapa perusahaan percetakan ketika itu menciptakan berbagai macam teknik baru bidang cetak-mencetak, seperti Friedrich König telah menciptakan mesin cetak berkecepatan tinggi (highspeed press) sekitar tahun 1828 dan pada tahun 1846 diciptakan mesin penyusun (composing machine). Nah, sejak saat itulah hampir tak terhitung lagi penyempurnaan-penyempurnaan pada peralatan cetak-mencetak.

Bagaimana Penyebaran teknik mencetak di Indonesia?
Untuk sekedar membuat teks dan rangkaian cerita pada waktu itu teknik cetak-mencetak dilakukan dengan cara mengukir pada batu atau dituliskan di atas daun lontar (papirus). Hal ini berbeda dengan perkembangan di negeri Eropa, karena belum masuknya pengetahuan cetak-mencetak maka hanya beberapa orang terpelajar saat itu mampu membaca dan menulis. Sekitar tahun 1596 para pedagang Belanda pertama mendarat di Jawa Barat. Koloni pedagang lainnya mengikuti ditahun 1602 membentuk 'Verenigde Oost Compagnie' alias VOC. Pada saat itulah diduga pengetahuan cetak-mencetak secara teknis dibawa ke Indonesia.

Mungkin diantara rekan-rekan yang ingin melengkapi mengenai sejarah cetak mencetak ini boleh share dengan saya, mudah-mudahan bisa saling melengkapi untuk menambah wawasan kita semua.